Ismihs’s Weblog

Maret 24, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 12:08 pm

RESENSI BUKU

Judul Buku       : Ayat-ayat Cinta

Pengarang        : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit            : Republika

Kota Terbit      : Jakarta

Tahun Terbit     : Cetakan I, Desember 2004; Cetakan XIX Desember 2006

Tebal Buku       : 419 halaman

            Novel karya Kang Abik (sebutan untuk Habiburrahman El Shirazy) yang bercover seorang wanita cantik bercadar ini menyuguhkan kisah seorang mahasiswa Al Azhar yang sangat sederhana tetapi sangat simpatik dan kharismatik. Dengan kegigihan yang luar biasa dan rencana yang matang atas segala yang akan dijalankannya  menjadikan sebagian besar keinginannya tercapai dengan gemilang. Bahasa yang digunakan sangat santun dan alurnya mengalir deras tetapi sangat enak untuk diikuti.     Penyisipan bahasa Arab mewarnai karya tersebut. Akan tetapi, pembaca tidak perlu khawatir karena setiap pengambilan bahasa Arab dalam novel tersebut selalu diikuti terjemahnya dalam bahas Indonesia. Dengan demikian, pembaca tetap dapat memiliki pemahaman yang utuh. Novel tersebut merupakan peraih pena award novel terpuji nasional 2005 dan peraih penghargaan the most favorite book 2005.

Sinopsis Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy

            Fahri, seorang mahasiswa Al Azhar, tinggal di flat bersama teman-temannya, bertetangga dengan keluarga Kristiani yang memiliki anak gadis bernama Maria. Meskipun Maria seorang Kristiani, dia hafal surat Maryam. Kehidupan bertetangga mereka sangat baik dan bertoleransi tinggi. Diam-diam Maria mengagumi Fahri.

Dalam perjalanan menuju Shubra, tempat Fahri berguru kepada Syaikh Utsman, di dalam metro Fahri berjumpa dengan Aisha, seorang gadis bercadar, dan Alicia, seorang wartawati Amerika. Para penumpang menghujat orang Amerika, Aisha malah memohonkan maaf saudara-saudara yang menghujat itu yang menyebabkan para penumpang marah kepada Aisha. Fahri bisa menengahinya.

Pada suatu malam, di flat/ apartemen seorang gadis bernama Noura,  dianiaya oleh keluarganya. Fahri tak tega melihatnya. Akan tetapi, dia tak bisa menolong gadis itu karena dia seorang laki-laki yang bukan muhrim Noura. Dia minta tolong kepada Maria untuk menolong Noura. Meskipun semula keberatan karena takut risiko yang akan ditanggungnya, atas desakan Fahri, akhirnya Maria mau menolong dengan mengajak Noura ke kamarnya.

Demi keamanan Noura, Fahri dan Noura menitipkan Noura kepada Nurul seorang mahasiswi Al Azhar yang berasal dari Jawa Timur. Untuk menghindari risiko yang lebih besar Noura akhirnya dititipkan kepada keluarga Syaikh Ahmad yang tinggal jauh dari orang tua Noura.

Meskipun Maria dan Fahri berbeda agama, mereka hidup sangat rukun dan saling menghormati. Ketika Madame Nahed, ibu Maria, dan Yousef, adik Maria berulang tahun Fahri memberi kado yang membuat keluarga Maria sangat terkesan terhadap Fahri.  Keluarga itu mengajak Fahri dan kawan-kawannya merayakan pesta ulang tahun di sebuah restoran. Di tempat itulah keluarga Maria semakin tahu dan terpikat akan kehalusan dan kepekaan budi Fahri.

Ketika Fahri sakit, keluarga Maria menunjukkan perhatian yang sangat luar biasa. Ibu Maria yang kebetulan seorang dokter memeriksanya yang kemudian mengirimkan Fahri ke sebuah rumah sakit yang sangat mewah. Fahri sudah berpikir dengan apa dia bisa membayar ongkos rumah sakit tersebut. Dia hitung-hitung tabungannya tak akan mungkin cukup untuk membayarnya. Fahri berusaha pinjam sana-sini untuk keperluan tersebut. Namun, di luar dugannya ketika temannya mengurus biaya rumah sakit sudah ada orang membayar semua ongkos rumah sakit yang tidak mau diketahui identitasnya. Fahri sangat ingin berterima kasih kepada orang yang sangat berbaik hati tersebut dan mendoakannya agar orang tersebut mandapat imbalan dari-Nya.

Fahri menerima sepucuk surat dari Noura yang katanya berisi ucapan terima kasih. Ternyata di dalamnya terdapat juga pernyataan ungkapan rasa cinta. Surat itu kemudian dititipkannya kepada keluarga Syaikh Ahmad, siapa tahu suatu saat surat itu diperlukannya.

Suatu ketika, Syaikh Utsman menawari Fahri apakah dia mau kawin yang membuat Fahri kaget karena dia merasa sebagai mahasiswa miskin. Setelah istikharah berulang-ulang Fahri menerima tawaran Syaikh Utsman. Dia belum tahu siapa calon mempelainya. Setelah dipertemukan dengan seseorang, ternyata Fahri telah mengenal wanita itu. Begitu pula sebaliknya. Aisha nama gadis itu.

Setelah Fahri menikah dengan Aisha datang musibah yang tak terduga. Noura memfitnah Fahri telah menghamilinya hingga mengantarkan Fahri masuk penjara. Padahal, Noura seorang gadis yang pernah ditolong oleh Fahri dengan perantraan Maria. Maria yang tahu Fahri telah menikah menjadi sakit keras hingga dalam keadaan koma. Ternyata diam-diam Maria teramat sangat mencintai Fahri.

Madame Nahed, ibu Maria, mengabarkan kepada Fahri tentang keadaan Maria. Dia minta agar Fahri mau mengucapkan kata-kata yang dapat menumbuhkan semangat hidup Maria. Kalau perlu Fahri diminta untuk menyentuh tubuh Maria agar Maria dapat sembuh. Akan tetapi, Fahri tetap pada pendiriannya bahwa seorang yang bukan mahram tak boleh bersentuhan. Madame Nahed pun menghargai prinsip Fahri.

Ketika Fahri akan disidang, Fahri harus memiliki bukti kuat yang menyatakan bahwa dirinya tak berbuat seperti yang dituduhkan Noura. Bukti terkuat yang dimaksud adalah Maria. Padahal Maria dalam keadaan koma. Menurut dokter, dia akan sembuh apabila mendapat sentuhan dari orang yang sangat dicintainya. Orang yang dimaksud adalah Fahri. Fahri mau menikahi Maria atas seizin Aisha. Hal itu dilakukan juga karena permintaan Madame Nahed.

Ketika Fahri disidangkan, Maria bisa memberi kesaksian yang meyebabkan Fahri bebas dari tuduhan. Akan tetapi, karena Maria emosi menyebabkan dia jatuh sakit lagi. Dalam sakitnya dia selalu melafalkan ayat-ayat Alquran. Dia juga bermimipi antre di pintu syurga, tetapi ketika tiba gilirannya masuk tak diizinkan oleh penjaga karena dia tak termasuk dalam golongan itu. Berkali-kali dia antre dan selalu ditolak oleh penjaga kecuali Maria ditolong oleh seseorang. Ketika terbangun, Maria minta tolong kepada Fahri agar dibantu untuk berwudlu dan membaca syahadat yang kemudian Maria menghembuskan nafas terakhir.

                                                                                                Isminatun

                                                                                                Perum UMS Makamhaji, Kts.

 

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 12:07 pm

Tumbangnya Harapan Guru Bersertifikasi

(Lahirnya PP yang Meresahkan Guru)

 

“Indonesia adalah satu-satunya Negara yang menentukan jabatan profesi dengan portofolio” demikian pernyataan Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dirjen PMPTK) Dr. Baedowi ketika beliau memberikan materi pada Workshop Sertifikasi Guru dan Peningkatan Mutu Sekolah Se-Karesidenan Surakarta, Sabtu (28/2) (Solopos, 2 Maret 2009).

            Memang, akhir-akhir ini marak diselenggarakan workshop sertifikasi guru. Setiap diselenggarakan kegiatan workshop selalu dibanjiri peserta. Ini merupakan gejala yang menggembirakan sekaligus menyedihkan. Menggembirakan, bila peserta benar-benar ingin mendapatkan tambahan informasi atau pengetahuan untuk dirinya sehingga pemahaman atau wawasan terhadap sertifikasi bertambah. Menyedihkan bila keikutsertaan peserta hanyalah bermaksud untuk mendapatkan sertifikat yang nantinya dapat dijadikan pendukung penilaian potofolio.

            Portofolio merupakan kumpulan dokumen yang menggambarkan prestasi seseorang. Portofolio guru adalah kumpulan dokumen yang menggambarkan pengalaman berkarya/ prestasi dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Penilaian portofolio merupakan proses pengakuan atas pengalaman profesional guru melalui penilaian kumpulan dokumen. Portofolio ini merupakan salah satu cara sertifikasi.

Sertifikasi merupakan proses pemberian sertifikat pendidik sebagai pengakuan terhadap keprofesionalan pendidik. Konsekuensi dari dari sertifikasi adalah mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji. Ini fenomena yang menggembirakan bagi guru sebagai upaya peningkatan kesejahteraan mereka. Hal ini sejalan dengan tujuan sertifikasi yakni meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan pendidik.

Harapan para pendidik untuk mendapatkan peningkatan kesejahteraan cukup beralasan. Iming-iming satu kali gaji cukup menggiurkan. Para guru pun antusias mengikuti sertifikasi, baik dengan pengumpulan dokumen portofolio, pendidkan dan pelatihan, ataupun melalui pendidikan profesi. Setelah mengantongi sertifikat pendidik, berarti pengakuan sebagai guru professional telah di tangan, tinggal menunggu realisasi janji pemerintah untuk menerima tunjangan profesi.

Dalam kenyataanya, sudah ada beberapa rekan guru yang menikmati tunjangan tersebut. Semangat untuk meningkatkan dedikasi dan loyalitas terhadap profesi mengimbangi fasilitas yang telah dinikmati. Akan tetapi, kini keresahan mulai merebak di kalangan pendidik bersertifikat atau guru professional. Mengapa? Bukankah mereka telah menikmati janji pemerintah? Bukankah kesejahteraan telah terangkat?

Ternyata keresahan muncul berkenaan dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. PP tersebut telah disahkan Presiden Susilo Bambang Yudhono tanggal 1 Desember 2008. Pasal 52 ayat (2) PP tersebut menyatakan beban kerja guru minimal 24 jam tatap muka, maksimal 40 jam tatap muka dalam satu minggu.

Guru yang tidak memenuhi kewajiban melaksanakan pembelajaran 24 jam tatap muka dan tidak mendapat pengecualian dari Menteri akan mandapat sanksi berupa dihilangkan haknya untuk mendapat tunjangan profesi, tunjangan fungsional atau subsisdi tunjangan fungsional, dan maslahat tambahan. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa sebagian besar guru tidak dapat memenuhi kewajiban 24 jam tatap muka per minggu. Ini terjadi bukan karena keenganan guru mengajar 24 jam. Akan tetapi, hal ini lebih disebabkan sedikitnya rombel (rombongan belajar) dan banyaknya jumlah guru. Ini terjadi bukan hanya pada satu dua sekolah. Di tingkat daerah/ kabupaten yang dapat memenuhi syarat 24 jam tatap muka tak lebih dari 10 orang. Kenyataan tersebut bukan hanya terjadi di satu dua kabupaten. Bahkan, kenyataan tersebut akan melanda di semua daerah atau menjadi lingkup nasional.

Sebenarnya, munculnya Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru yang diterbitkan oleh Dirjen PMPTK cukup melegakan para guru. Pedoman tersebut diterbitkan bulan Maret 2008. Dalam Pedoman dinyatakan berbagai alternatif pemenuhan beban kerja guru. Di antaranya dapat dilakukan dengan mengajar di sekolah lain, menjadi Guru Bina/ Pamong pada Sekolah Terbuka, menjadi tutor pada Kelompok Belajar (Kejar) Paket, dan (ini yang dianggap paling solutif) melaksanakan Team Teaching. Namun, kelegaan tersebut dimentahkan dengan munculnya PP No 74 Tahun 2008 yang tidak menyebutkan Team Teaching sebagai solusi. Adapun solusi yang dapat diterapkan berdasarkan PP tersebut berupa pemenuhan beban mengajar dengan mengajar di sekolah lain. Akan tetapi bagaimana mungkin, beban ini dapat terpenuhi bila sekolah lain juga berkasus sama? Sekolah lain pun kelebihan guru berkelebihan guru dan kekurangan rombongan belajar.

Ada memang, solusi dengan memecah kelas menjadi kelas kecil. Rata-rata rombongan belajar (rombel) saat ini masih berkisar 40 peserta didik per rombel. Padahal, berdasarkan standar proses, kelas ideal maksimal satu rombel terdiri dari 32 pesdik. Apabila rombel dipecah, maksudnya, satu rombel dijadikan dua rombel, berarti satu rombel terdiri dari 20 pesdik. Ini memang menjadikan rombel ideal berdasarkan standar proses. Akan tetapi, akan muncul permasalahan baru. Di mana mereka akan mengikuti kegiatan pembelajaran? Sementara kelas tempat kegiatan pembelajarn berlangsung cukup terbatas.

Apabila pemenuhan jam mengajar tak terpenuhi, akankah 98 % guru bersertifikat kehilangan haknya untuk menerima tunjangan profesi? Sungguh, kasihan nasib guru kita. Setelah mendapat iming-iming untuk mendapat tunjangan profesi, dan telah mencicipi tunjangan tersebut akhirnya harus melepas harapan yang telah melambung ke awang-awang. Tapi tak mengapa para guru. Selamat berjuang para guru. Jangan terpengaruh oleh tunjangan yang terlepas dari tangan. Para peserta didik sangat mengharapkan dedikasi dan semangat jibaku dari para guru.

artikel

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 12:04 pm

Bocoran UN, Siapa Bertanggung Jawab?

            Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, akan punya gawe besar. Sebagaimana sebuah perhelatan pada umumnya, perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Apalgi, ini perhelatan tingkat nasional. Sebenarnya sih, pemerintah menyelenggarakan perhelatan ini telah berkali-kali. Atau ibarat orang bekerja sudah sangat berpengalaman. Anggaran yang tersedot untuk perhelatan ini pun sangat besar.

            Persiapan telah dilakukan berbagai kalangan. Depdiknas sendiri, dalam hal ini ditangani oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah menrbitkan Prosedur Operasi Standar (POS) Ujian Nasional SMP, MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK Tahun Pelajaran 2008/ 2009. POS tersebut elah ditandatangani oleh Ketu BSNP, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd, Kons, pada tanggal 12 Desember 2008. Pelaksanaan Ujian Nasional SMP tanggal 27 – 30 April 2008. Adapuan pelaksanaan UN SMA seminggu sebelumnya.

            Kriteria kelulusan berdasarkan POS tersebut adalah memiliki rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Adapun khusus untuk SMK nilai uji kompetensi keahlian minimum 7,00 dengan nilai teori kejuruan minimum 5, nilai uji kompetensi keahlian digunakan untuk menghitung nilai rata-rata UN.

Kriteria kelulusan tersebut mengalami keaikan dibandingkan tahun yang lalu yang hanya 5,25. Maksud baik pemerintah dengan meningkatkan kriteria kelulusan ini disikapi oleh berbagai pihak dengan variatif. Ada beranggapan kenaikan kriteria kelulusan merupakan keniscayaan, ada pula yang berpendapat kenaikan kriteria kelulusan merupakan malapetaka bagi anak bangsa.

            Tampaknya, Pemerintah memang ingin menyejajarkan kualitas pendidikan negara kita dengan negara-negara berkembang lainnya. Indonesia pada zaman dulu lebih unggul dibanding Malaysia. Itu dulu. Dulu warga Malaysia, berguru ke Indonesia. Tapi kini? Negara kita tertinggal jauh dibanding negara tetangga tersebut. Apalagi, bila dibandingakn negara kecil bernama Singapura. Kualitas pendidikan kita beradajauh di belakangnya. Ini dapat diketahui dari peringkat Indonesia di HDI (Human Development Index) yang semakin merosot atau anjlok.

Persiapan untuk menghadapi perhelatan akbar berupa UN tersebut dilakukan oleh pihak sekolah maupun non sekolah. Pihak sekolah melakukan penggenjotan dengan tambahan pelajaran, baik masuk pagi maupun sore. Tambahan pelajaran diisi dengan pembahasan soal atau strategi pengerjaan soal. Pihak orang tua sering dihantui rasa was-was yang berlebihan takut anaknya tidak lulus UN. Pihak Bimbel (bimbingan belajar) menyambut baik keresahan orang tua dalam mengantarkan anaknya untuk sukses UN, dengan membuka kelas bimbingan dari pagi hingga malam hari. Buku-buku pembahasan soal menghadapi UN pun laris manis.

Upaya-upaya di atas masih tergolong upaya yang sportif. Di lain pihak, ada upaya yang ditempuh dengan tidak sportif. Di antaranya, jual beli soal dan kuncinya. Anehnya, hingga kini belum pernah terungkap siapa aktor intelektual di balik penjualan soal dan kunci jawaban UN tersebut. Ada yang menuding ini dilakukan oleh oknum guru. Ini merupakan salah satu bentuk kecurangan. Menurut pakar pendidikan Solo, Prof. Dr. Furqon Hidayatullah, M.Pd., peluang untuk melakukan kecurangan masih tetap ada. Untuk itu, kesadaran semua pihak mutlak diperlukan (Solopos, 2 Maret 2008).

Ketua Forum Komunikasi Pengembangan Profesi Pnedidik (FKP3) Solo, H. Sajidan, S.Pd., M.Pd., menyatakan untuk guru, kemungkinan untuk membocorkan kunci jawaban sangat kecil. Hal ini disebabkan terlalu rawan bagi guru, meskipun meskipun misalnya dapat proyek ratusan milyar, tapi taruhannya besar yaitu tidak dipercaya oleh pemerintah.

Juli 13, 2008

Tulisan Kesepuluh

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:56 am

Barangkali ini tulisan ini yang terakhir pada sesi siang ini, Minggu, 13 Juli 2008. Nanti dan besuk mesti diteruskan lagi. Ingat komitmen awal. ya. Selalu bersaha untuk gapai cita-cita. Kita teruskan besuk lagi ya.

Tulisan Kesembilan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:53 am

Tulisan ketujuh disispi gambar, tulisan kedelapan mencoba mengdit. Tulisankesembilan enaknya diisi apa, ya? Apa saran-saran saja lah. Tapi saran apa? Untuk siapa? Orang diri sendiri saja masih perlu disarani kok mau kasih saran pada siapa lagi selain pada diri sendiri? Selain itu memberi saran kan selalu harus dilakukan.

Tulisan Kedelapan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:44 am

Sebuah kemajuan sedikit. Kini sudah ada gambarnya, kan? Meski sedrhana tapi menrik

 

Tulisan Ketujuh

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:25 am

Saat ini kita berbagi masalah sastra. Kenal Andrea Hirata? Dialah si pengarang tetralogi Laskar Pelangi. Penulis muda yang alumnuas Ekonomi UI, Psaca sarjana Universiats Sorbone Perancis itu saat ini masih bekerja di Telkom Pusat. Tesisnya di dua universitas luar negeri itu kabarnya menjadi buku rujukan yang sangat berharga di Indonesia. Dialah yang memperkenalkan guru-gurunya yang sangat sederhana dan dia hormapi. Bu Mus dan Pak harfan adalah guru idolanya. Bisakah ya, saya diidolakan oleh murid sebagaimana Andrea atau Ikal menghormati gurunya?

Tulisan Keenam

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:20 am

Peristiwa ini kutulis ketika aku berada di LPMP. Enak juga ya, di LPMP bisa menghindari pekerjaan rutin di sekolah. Bagaimana aku tak bosan dengan pekerjaan sekolah? Selama liburan tiga minggu ini aku belum pernah libur sekalipun. Tuhan benar-benar Mahatahu. Diberi-Ny aku liburan dengan mengirimkanku ke LPMP. Bukan hanya itu. Aku ingin menimba bayka ilmu di LPMP. Ilmu yang kupunya saat ini masih sangat-sangat sedikit.

Tulisan Kelima

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:15 am

Semakin banyak menulis semakin baik. Di negara maju orang banyak menghasilkan tulisan. Adapun di negara yang belum maju orang cenderung berkomunikasi dengan suara. Indonesia kini merangkak menuju negara maju. Tapi kapankah negara maju itu ada di tangan? Banyak permasalahan negara yang semakin menambah beban pikiran. Terus siapa yang akan kita tuding sebagai biang keladinya? Jangan-jangan kita sendiri biang keladinya. Ingat kan, sering kesalahan kita tak tampak sementara kesalahan orang lain meskipun sangat kecil tampak jelas sekali. Hayo, apa peribahasanya?

Tulisan Keempat

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ismihs @ 4:12 am

Satu dua tiga telah kita coba. Kini giliran keempat. adakah jaminan bahwa keempat lebih baik daripada sebelumnya? Kalau belum ada jaminan Anfda harus usahakan. Tahu tokoh Arai, kan? Si yatim piatu miskin itu dengan penuh kegigihan akhirnya berhasil menggapai impianny. Dia saat ini sudah berada di luar negeri untuk menggapai impiannya. Siapa tak ingin, coba, sekolah di luar negeri tanpa biaya, bahkan mendapat uang saku yang lumayan besar. Itulah imbalan orang yang gigih berusaha. Akankah Anda tetap bermalas-malasan? Kapan uabh diti dari dekat rasa malas dengan dekat rajin? Ingan kan, bahwa Tuahan tak akan mengubah nasib seseorang sebelum orang itu mengubah nasib dirinya sendiri?

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.