RESENSI BUKU
Judul Buku : Ayat-ayat Cinta
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, Desember 2004; Cetakan XIX Desember 2006
Tebal Buku : 419 halaman
Novel karya Kang Abik (sebutan untuk Habiburrahman El Shirazy) yang bercover seorang wanita cantik bercadar ini menyuguhkan kisah seorang mahasiswa Al Azhar yang sangat sederhana tetapi sangat simpatik dan kharismatik. Dengan kegigihan yang luar biasa dan rencana yang matang atas segala yang akan dijalankannya menjadikan sebagian besar keinginannya tercapai dengan gemilang. Bahasa yang digunakan sangat santun dan alurnya mengalir deras tetapi sangat enak untuk diikuti. Penyisipan bahasa Arab mewarnai karya tersebut. Akan tetapi, pembaca tidak perlu khawatir karena setiap pengambilan bahasa Arab dalam novel tersebut selalu diikuti terjemahnya dalam bahas Indonesia. Dengan demikian, pembaca tetap dapat memiliki pemahaman yang utuh. Novel tersebut merupakan peraih pena award novel terpuji nasional 2005 dan peraih penghargaan the most favorite book 2005.
Sinopsis Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy
Fahri, seorang mahasiswa Al Azhar, tinggal di flat bersama teman-temannya, bertetangga dengan keluarga Kristiani yang memiliki anak gadis bernama Maria. Meskipun Maria seorang Kristiani, dia hafal surat Maryam. Kehidupan bertetangga mereka sangat baik dan bertoleransi tinggi. Diam-diam Maria mengagumi Fahri.
Dalam perjalanan menuju Shubra, tempat Fahri berguru kepada Syaikh Utsman, di dalam metro Fahri berjumpa dengan Aisha, seorang gadis bercadar, dan Alicia, seorang wartawati Amerika. Para penumpang menghujat orang Amerika, Aisha malah memohonkan maaf saudara-saudara yang menghujat itu yang menyebabkan para penumpang marah kepada Aisha. Fahri bisa menengahinya.
Pada suatu malam, di flat/ apartemen seorang gadis bernama Noura, dianiaya oleh keluarganya. Fahri tak tega melihatnya. Akan tetapi, dia tak bisa menolong gadis itu karena dia seorang laki-laki yang bukan muhrim Noura. Dia minta tolong kepada Maria untuk menolong Noura. Meskipun semula keberatan karena takut risiko yang akan ditanggungnya, atas desakan Fahri, akhirnya Maria mau menolong dengan mengajak Noura ke kamarnya.
Demi keamanan Noura, Fahri dan Noura menitipkan Noura kepada Nurul seorang mahasiswi Al Azhar yang berasal dari Jawa Timur. Untuk menghindari risiko yang lebih besar Noura akhirnya dititipkan kepada keluarga Syaikh Ahmad yang tinggal jauh dari orang tua Noura.
Meskipun Maria dan Fahri berbeda agama, mereka hidup sangat rukun dan saling menghormati. Ketika Madame Nahed, ibu Maria, dan Yousef, adik Maria berulang tahun Fahri memberi kado yang membuat keluarga Maria sangat terkesan terhadap Fahri. Keluarga itu mengajak Fahri dan kawan-kawannya merayakan pesta ulang tahun di sebuah restoran. Di tempat itulah keluarga Maria semakin tahu dan terpikat akan kehalusan dan kepekaan budi Fahri.
Ketika Fahri sakit, keluarga Maria menunjukkan perhatian yang sangat luar biasa. Ibu Maria yang kebetulan seorang dokter memeriksanya yang kemudian mengirimkan Fahri ke sebuah rumah sakit yang sangat mewah. Fahri sudah berpikir dengan apa dia bisa membayar ongkos rumah sakit tersebut. Dia hitung-hitung tabungannya tak akan mungkin cukup untuk membayarnya. Fahri berusaha pinjam sana-sini untuk keperluan tersebut. Namun, di luar dugannya ketika temannya mengurus biaya rumah sakit sudah ada orang membayar semua ongkos rumah sakit yang tidak mau diketahui identitasnya. Fahri sangat ingin berterima kasih kepada orang yang sangat berbaik hati tersebut dan mendoakannya agar orang tersebut mandapat imbalan dari-Nya.
Fahri menerima sepucuk surat dari Noura yang katanya berisi ucapan terima kasih. Ternyata di dalamnya terdapat juga pernyataan ungkapan rasa cinta. Surat itu kemudian dititipkannya kepada keluarga Syaikh Ahmad, siapa tahu suatu saat surat itu diperlukannya.
Suatu ketika, Syaikh Utsman menawari Fahri apakah dia mau kawin yang membuat Fahri kaget karena dia merasa sebagai mahasiswa miskin. Setelah istikharah berulang-ulang Fahri menerima tawaran Syaikh Utsman. Dia belum tahu siapa calon mempelainya. Setelah dipertemukan dengan seseorang, ternyata Fahri telah mengenal wanita itu. Begitu pula sebaliknya. Aisha nama gadis itu.
Setelah Fahri menikah dengan Aisha datang musibah yang tak terduga. Noura memfitnah Fahri telah menghamilinya hingga mengantarkan Fahri masuk penjara. Padahal, Noura seorang gadis yang pernah ditolong oleh Fahri dengan perantraan Maria. Maria yang tahu Fahri telah menikah menjadi sakit keras hingga dalam keadaan koma. Ternyata diam-diam Maria teramat sangat mencintai Fahri.
Madame Nahed, ibu Maria, mengabarkan kepada Fahri tentang keadaan Maria. Dia minta agar Fahri mau mengucapkan kata-kata yang dapat menumbuhkan semangat hidup Maria. Kalau perlu Fahri diminta untuk menyentuh tubuh Maria agar Maria dapat sembuh. Akan tetapi, Fahri tetap pada pendiriannya bahwa seorang yang bukan mahram tak boleh bersentuhan. Madame Nahed pun menghargai prinsip Fahri.
Ketika Fahri akan disidang, Fahri harus memiliki bukti kuat yang menyatakan bahwa dirinya tak berbuat seperti yang dituduhkan Noura. Bukti terkuat yang dimaksud adalah Maria. Padahal Maria dalam keadaan koma. Menurut dokter, dia akan sembuh apabila mendapat sentuhan dari orang yang sangat dicintainya. Orang yang dimaksud adalah Fahri. Fahri mau menikahi Maria atas seizin Aisha. Hal itu dilakukan juga karena permintaan Madame Nahed.
Ketika Fahri disidangkan, Maria bisa memberi kesaksian yang meyebabkan Fahri bebas dari tuduhan. Akan tetapi, karena Maria emosi menyebabkan dia jatuh sakit lagi. Dalam sakitnya dia selalu melafalkan ayat-ayat Alquran. Dia juga bermimipi antre di pintu syurga, tetapi ketika tiba gilirannya masuk tak diizinkan oleh penjaga karena dia tak termasuk dalam golongan itu. Berkali-kali dia antre dan selalu ditolak oleh penjaga kecuali Maria ditolong oleh seseorang. Ketika terbangun, Maria minta tolong kepada Fahri agar dibantu untuk berwudlu dan membaca syahadat yang kemudian Maria menghembuskan nafas terakhir.
Isminatun
Perum UMS Makamhaji, Kts.
